Bebas Asma Tanpa Obat



Bismillah…Boleh jadi seseorang mampu bertahan lapar bisa sampai 5 atau 7 hari. Namun siapa yang mampu menahan nafas lebih dari lima menit, sepuluh menit atau satu jam? Mungkin ada yang mampu menahan nafas lebih dari setengah jam, yakni sejumlah penyelam tanpa alat dengan resiko rusaknya gendang telinga mereka.
Subhanallah, begitu pentingnya aktivitas bernafas, yakni masuk keluarnya udara dalam tubuh manusia dan makhluk lainnya. Untuk itu kematian sering disebut juga “menghembuskan nafas….,” karena diantara tanda-tanda yang dilihat pada mayit adalah tiadanya nafas. Selain sebagai salah satu pertanda kehidupan, pernafasan merupakan kebutuhan dasar kesehatan, karena udara menjadi komponen penting dalam peredaran darah yang tak pernah berhenti mengitari tubuh. Peranan udara bagi makhluk merupakan rancangan menakjubkan Maha Pencipta (Al Khaliq) Allah SWT. Tentunya hidup seseorang tidaklah normal bila kebutuhan udaranya untuk tubuhnya tidak terpenuhi atau terganggu.
Allah SWT juga telah merancang dengan sebaik-baiknya bahwa manusia menghirup udara yang bersih dan menghembuskan (mengeluarkan udara kotor). Lebih dari itu Allah SWT telah menetapkan tubuh manusia selalu membutuhkan udara yang bersih (al-Hawa An-Nadlif), biasa juga disebut oksigen (O2)


Bila udara yang masuk tidak bersih, walau telah mengalami penyaringan berulang kali sejak masuk dari hidung atau mulut, tentunya bisa mengancam kesehatan, karena udara kotor tersebut bisa merusak organ (saluran) pernafasan dan mencemari darah.
Untuk itu manusia dibekali kepekaan (sensifitas) terhadap lingkungannya, bahwa manusia akan meninggalkan bau busuk / tak sedap. Seseorang merasa nyaman, bahagia ditempat yang sejuk, rindang, segar apalagi menebarkan aroma wangi. Pasalnya bau tak sedap apalagi menyengat sangat mengganggu kesehatan, sedangkan aroma wnagi memberikan manfaat kesehatan.
Apalagi wewangian merupakan salah satu kesukaan Rasulullah SAW. Untuk itu dalam sebuah hadits Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa ditawari minyak wangi, janganlah ia menolak. Karena ringan bobotnya dan semerbak baunya.”
Menurut ulama kedokteran Islam, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, aroma wangi paling cocok dan serasi dengan ruh. Hubungan wewangian sangat dekat dengan jiwa yang baik, dan sangat dekat dengan jiwa yang baik, dan sangat disukai oleh para malaikat. Sementara setan amat benci wewangian dan sangat menyukai bau busuk dan menjijikkan. Ruh yang jelek jyga menyukai yang kotor dan bau busuk.
Allah SWT telah menyiapkan kebutuhan manusia berupa udara dan lingkungan hidup yang bersih, dan bila nikmat dan anugerah tersebut dijaga niscaya memberikan dampak kesehatan jasmaniyah dan ruhaniyah.
Namun sebaliknya bila manusia tidak menjaga amanat tersebut, diantaranya mencemari udara dan lingkungan serta menebarkan aroma dan bahan atau zat berbahaya (polusi) tentunya akan berdampak merusak kesehatan.
Gangguan kesehatan tersebut terjadi akibat masuknya udara kotor atau bibit penyakit melalui aliran pernafasan. Untuk itu diantara pihak pertama yang terusik akibat pencemaran dan rusaknya lingkungan ini adalah saluran pernafasan (tenggorokan) yang menjadi pusat lalu lintas udara ke dan dari paru-paru.
Rusaknya saluran pernafasan pada gilirannya mengganggu, mempersempit, menyumbat atau menghambat aliran udara ke dan dari paru-paru. Rusaknya atau terganggunya saluran nafas juga sangat memungkinkan memberikan keleluasaan bibit penyakit menerobos masuk menjelajahi organ-organ penting. Gangguan di saluran nafas ini biasanya menjadikan seseorang sulit bernafas secara normal alias mengalami sesak nafas, kadang sampai berbunyi seperti pluit atau disebut mengi – karena aliran udara mengalami banyak hambatan. Sebenarnya asma berasal dari bahasa Yunani artinya sesak nafas. Adapun dalam istilah Arab, sesak nafas atau bengek disebut Ar-Robwu.
Meski demikian penyebab Ar-Robwu (Asma) bukan hanya kerusakan /pencemaran lingkungan (polusi). Tapi gangguan saluran nafas ini juga dipicu oleh banyak hal, diantaranya ketegangan / cemas (stress), intervesi setan (sihir), kurang gerak / olahraga, pemanis buatan (aspartam) atau bahan kimia campuran makanan dan minuman, kurang gizi, menurunnya daya tahan / antibodi, merokok, ASI yang tak lancar, penggunaan pestisida dan pembasmi serangga, pemakaian bedak berlebihan dan lainnya.
Sesungguhnya kerusakan saluran nafas ini bisa dihindari bila adanya kehati-hatian merawat stabilitas rohaniah (Qalbu), menjaga kualitas makanan dan minuman, serta menghindari aktivitas berlebih dan bahan-bahan berbahaya. Dengan upaya tersebut Insya Allah kita diberikan kemampuan bebas dari asma tanpa terikat oleh ragam obat, khususnya sintetis.
Sayangnya sampai saat ini masih banyak pihak yang meyakini bahwa asma adalah penyakit yang tak bisa diobati dan disembuhkan. Padahal Allah SWT sendiri dan Rasul-Nya yang memberikan jaminan / garansi kesmebuhan bila diobati sesuai syariat atau tuntunan dalam panduan pengobatan Islami. Selain itu kucing sering dijadikan sasaran fitnah dalam penyebaran ataupun pemicu sesak nafas. Padahal Rasulullah SAW sendiri sangat dekat dan menyayangi kucing, bahkan ada sahabat perawi hadits terbanyak mendapat julukan dari Rasulullah SAW dengan Abu Hir (Bapak Kucing), atau lebih dikenal Abu Hurairah. Artinya bila ada bahaya dari binatang tersebut tentunya Rasulullah SAW melarang mendekatinya, apalagi bercengkerama dengan makhluk yang paling dekat dengan manusia tersebut. Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya (kucing) itu tidak najis, namun ia diantara binatang yang mengelilingimu.” (HR Imam Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)
Lebih repot lagi, adanya sejumlah pihak yang menyebut gangguan atau kerusakan saluran pernafasan di paru-paru ini sebagai penyakit keturunan. Sehingga banyak penderita Asma yang khawatir keluhannya menurun ke putra-putrinya. Atau penderita Ar-Eabwu meyakini penderitaannya sebagai warisan dari orang tuanya. Sesungguhnya sebagai muslim harus meyakini rasa sakit atau penyakit adalah bagian dari takdir Allah SWT.
Rasululah SAW bersabda : “Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Allah menurunkan obatnya.”